Seiring perkembangan zaman, kuliner Indonesia semakin beragam jenisnya
Siapa yang tidak kenal bakso, semua orang pasti menyukainya terutama kaum perempuan. Bakso daging atau bakso telur, itu biasa. Bakso yang satu ini agak berbeda, bakso keju.
Bakso keju sama seperti bakso lainnya, bentuknya yang bulat dan keju di dalamnya selalu mengundang rasa penasaran untuk mencicipi. Proses pembuatan sama, keju diparut terlebih dahulu kemudian dipadatkan, baru dimasukkan ke dalam adonan baso yang telah siap.
Sekalipun memajang nama Bakso Keju Radio Dalam, namun Edi selaku pemilik mempunyai menu bakso andalan lainnya. “Selain bakso keju pelanggan disini juga banyak yang memesan bakso rawit, sumsum dan urat. Kadang-kadang mereka lebih suka makan sebagai camilan saja. Tanpa kuah, cukup dipotong kecil-kecil” kata, Edi
Di tempat ini juga tersedia bakso telur, bakso tahu, bakso tahu udang, bakso sumsum, bakso goreng kotak, jagung, urat, brokoli, daging dan sebagainya. Mengenai harga cukup terjangkau dengan tempat yang kelihatan mewah, antara Rp. 3.500 sampai Rp.7.500. “Walaupun sekarang apa-apa mahal tapi saya ngga berani memasok harga tinggi, harga saya sesuaikan saja dengan pasaran jajanan lainnya,” ujar lulusan marketing Universitas Colorado.
Promosi yang diterapkan secara perlahan dan bertahap membuat bakso keju ini tidak langsung dikenal oleh masyarakat luas. Edi mengaku telah memilki langganan tetap. Jangan heran kalau Anda mampir ke bakso keju terlihat sepi dan lengang, kebanyakan pelanggannya lebih memilih layanan antar dengan menambah ongkos Rp.5.000 perak.
Selain sistem delivery, Bakso Keju Radio Dalam juga menerapkan self service bagi pelanggan yang makan di tempat. Teman Bakso dalam mangkok seperti mihun dan shoun, silahkan mengambil sendiri sesuai takaran perut masing-masing. Saus, sambal, kecap dan bumbu lainnya juga sengaja disediakan di meja, agar pelanggan bisa meraciknya sendiri sesuai selera.
“Bakso keju ini dijamin aman, tidak menggunakan pengawet apapun, apalagi sudah terdaftar BPOM,” ucap Edi meyakinkan. “Saya selalu menyimpannya di frezer, jadi bisa tahan sampai seminggu,” tambahnya. Produksi bakso menghabiskan 100kg dan 25 kotak keju per-minggunya.
Pada saat ajang festival keju di parkir timur beberapa waktu yang lalu, Bakso Radio Dalam ini meraih penghargaan sebagai stand dengan antrian terpanjang. “waduh saya kewalahan waktu itu, 500 buah bakso yang saya siapkan ternyata hanya cukup sampai siang. Akhirnya saya produksi dadakan dan mengambil stok yang ada di cabang Kalisari, Cijantung,” Pungkas Edi, mengaku senang sekaligus stress menghadapi pembeli di ajang festival.





