Ada pengalaman tersendiri ketika mencari wisata sejarah Gedung Moehammad Hoesni Thamrin (MH. Thamrin). “Mas jual barang ya..?” pertanyaan langsung terlontar ketika memasuki jalan Kenari. Maklum gedung yang sekarang dijadikan Museum MH Thamrin dikelilingin perkampungan dan pasar kenari, pasar khusus jual-beli alat-alat tekhnik dan elektronik.
Gedung MH. Thamrin terletak di jalan Kenari II No.15, Kelurahan Kenari Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, dibangun sejak abad ke-19. MH. Thamrin membeli gedung ini dari seorang Belanda bernama Meneer De Has kemudian dihibahkan untuk kepentingan kaum pergerakan kepada organisasi PPPKI (pemufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia) dan diberi nama Gedung Pemufakatan Indonesia.
Gedung ini selain sebagai tempat rapat-rapat dan musyawarah menuju kemerdekaan Republik Indonesia, juga mempunyai peranan penting dengan lahirnya lagu kebangsaan Indonesia yang konsepnya dibuat di gedung ini oleh WR. Supratman. Setelah kemerdekaan, pada tahun 1960-1964 gedung MH. Thamrin dipergunakan sebagai tempat pendidikan Kepamong-Prajaan dan pada malam hari tahun 1966-1977 sebagai tempat kuliah Universitas Jakarta (sekarang UNJ), kemudian siang harinya untuk belajar siswa-siswi SMA hingga 1984.
Pada masa Gubernur R. Suprapto, gedung ini dipugar sebagaimana aslinya dan difungsikan untuk berbagai kegiatan kaum Betawi. Pemerintah DKI Jakarta melalui Dinas Museum dan Sejarah menjadikan gedung ini sebagai bagian dari Museum Joang 45 dengan peranan mendokumentasikan perjuangan MH Thamrin.
Moehammad Hoesni Thamrin adalah seorang putra Betawi yang lahir di Sawah Besar pada tanggal 16 Februari 1894, dibesarkan di lingkungan yang taat pada agama Islam. Sampai meninggalnya pada tanggal 11 Januari 1941, MH. Thamrin telah banyak berjasa kepada bangsa dan negara. Maka atas jasa-jasanya beliau ditetapkan sebagai pahlawan Nasional, dan namanya diabadikan sebagai nama jalan yang sekarang lebih terkenal di Jakarta dari pada Gedung atau Museum yang banyak meninggalkan jejak-jejak perjuangannya.
Museum MH. Thamrin menyimpan banyak koleksi foto-foto kiprah perjuangannya, dan foto suasana kota Jakarta tempo dulu. Ada juga koleksi radio yang dulu digunakan oleh MH. Thamrin, blankon, piring hias, meja kursi, dan kepustakaan yang meliputi buku-buku naskah tentang Mohammad Hoesni Thamrin dan pidato-pidatonya di Volksraad. DDM
Tips Perjalanan
Bagi anda yang ingin mengunjungi Museum MH. Thamrin bisa sambil merencanakan belanja alat-alat tekhnik. Untuk menuju lokasi tidak terlalu sulit karena pasar kenari yang menjadi patokan ke Museum sudah terkenal dan tak asing bagi warga Jakarta. Anda yang dari Blok M, Kp.Rambutan, Kota, Pulogadung, Kalideres bisa naik Busway kemudian transit, lalu turun di Kramat Sentiong, pasar Kenari sudah terlihat. Jalan sedikit melalui pasar Kenari sekitar 200m, Museum terletak di Jl Kenari II No.15. tiket masuk museum cukup membayar Rp.1.000,- untuk dewasa dan Rp 500,- untuk anak-anak.





